Sunday, 15 March 2015

Mandor dan Kuli, Pedasnya Rujak Cengor Kehidupan

RujakCengor -- Seorang Mandor bangunan yang berada di lantai 5 bangunan yang ia kerjakan pembangunannya ingin memanggil pekerja atau kulinya yang sedang bekerja lantai bawah. Berkali-kali si Mandor berteriak, mulai dari suara biasa hingga lantang berteriak memanggil. Namun si Kuli Pekerja tetap tidak menggubrisnya.

Setelah Mandor berkali-kali berteriak memanggil, namun tidak berhasil. si Kuli Pekerja tetap tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan. Mandor terus berupaya agar si pekerja mau mendongak keatas menggubrisnya.

Dilemparlah oleh Mandor uang Rp 1.000 yang jatuh tepat di sisi si pekerja. Namun, Si Kuli Pekerja hanya memungut uang Rp 1.000 tersebut lalu melanjutkan pekerjaanya. Upaya Mandor dg lempar uang Rp 1.000 masig belum berhasil. Mandor melanjutkan melemparkan uang Rp 100.000 dan berharap Si Kuli Pekerja mau menengadah "sebentar saja" ke atas. Sayangnya Si Kuli Pekerja hanya melompat-lompat kegirangan karena menemukan uang Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja. 

Kini Mandor tidak lagi lempar uang melainkan ia melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Kaget dan kesakitan, Si Kuli Pekerja baru mau menoleh atau mennegnadah ke atas dan berkomunikasi dengan Sang Mandor.

Cerita tersebut diatas sama dengan kehidupan kita. Alloh swt selalu ingin menyapa kita, namun kita terlalu sibuk mengurusi "DUNIA" kita. Sedikit maupun banyak dari rejeki yang kita peroleh, kerap kita lupa menengadahkan wajah walau hanya sekedar bersyukur. Bahkan lebih sering kita tidak mau tau dari mana rejeki itu datangnya. Bahkan kita selalu bilang :

"Kita lagi HOKI, Kita lagi UNTUNG"

Lebih buruk lagi, malah menjadi takabur atau sombong, menganggap semua itu kita peroleh karena kepandaian, kepintaran, kecerdikan, kerja keras, atau usaha kita. Namun saat batu kecil itu menghampiri kita dalam bentuk musibah. Kita baru mendongakka wajah ke atas berteriak-teriak memanggil-manggil Alloh swt. 

Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan "BATU KECIL" itu.

Tulisan in saya ambil dari status facebook milik Juniar Cahyadi seorang kawan sekampus. Status ini dibuat pada Senin 16 Maret 2015 tepatnya pukul 12:42 WIB. Tapi katanya ia Copas dari status yang lain. Yah, tidak apalah, Copas untuk berbagi kebaikan. (copas_status_fb/mlh)

Friday, 6 March 2015

Seporsi Rujak Cengor Kehidupan Yang Pedas

RujakCengor -- Ada empat hal yang melekat pada Rujak Cengor, manakala kita teringat dengan Rujak Cengor (Identik). Keempat hal tersebut diantaranya adalah Pedes (jawa) atau Pedas, kemudian Petis (jawa), Lontong, dan Cengor. Keempat hal ini ( pedes, petis, lontong, dan cengor) selalu menyertai dalam seporsi Rujak Cengor.

Seporsi Rujak Cengor, adalah seporsi hidangan rujak yang berisi potongan-potongan kecil (irisan) lontong, tempe, tahu, ketimun, krai, bendoyo, nanas, pencet (mangga muda), bengkoang, belimbing, ditambah sayur kangkung dengan bumbu (saos) Petis. 

Seporsi Rujak Cengor, filosofinya sangat mirip dengan seporsi kehidupan kita. Seporsi Rujak Cengor seperti sebuah sindiran akan kehidupan kita, atau bahkan bukan sindiran melainkan sebuah kelakar (guyonan) model kehidupankita.

Rujak Cengor itu pedes, sama dengan kehidupan kita yang memiliki nuansa "pedas". Walau saat kita merencnakan, memesan dan meminta seporsi Rujak Cengor tanpa lombok (jawa) atau cabe (tanpa pedas), kita tetap merasakan pedasnya Rujak Cengor. Kok bisa demikian ? Rasa pedas itu tentunya bukan dari nakalnya jemari si penjual rujak yang sengaja menyisipkan beberapa biji lombok. Melainkan karena laya (jawa) atau cobek yang dipakai untuk membuat saus petis adalah satu. Rasa pedas yang menyisip di porsi Rujak Cengor kita bisa disebut sebagai lose control diluar kendali kita (given). Yang pasti rasa pedas itu berasal dari adonan seporsi sebelumnya, walau tidak full power pedasnya.

Rasa pedas Rujak Cengor sangat mirip dengan rasa pedas kehidupan. Manusia sangat menolak pedasnya kehidupan hingga direncanakan dengan matang dan disertai dengan sebuah permohonan (doa). Namun pedas kehidupan itu tetap menyertai. 

Apakah kita menolak rasa pedas dari seporsi Rujak Cengor ?
Malah justru sebaliknya, kita malah menikmati seporsi Rujak Cengor tersebut. Bahkan kita esoknya kembali lagi untuk menikmatinya. Bukan hanya itu saja, malah kita beramai-ramai mengajak sanak, saudara, kawan serta handai taulan.

Pedasnya Rujak Cengor, memang harus dinikmati agar kita bisa mengambil hikmahnya dan bisa berbagi rasa soal Rujak Cengor. Begitu juga dengan kehdiupan ini, berbagi.

Ingat, seberapa kuat tingkat pedasnya rujak cengor adalah berdasarkan apa yang kita minta. Begitu juga dengan pedasnya kehidupan ini adalah dari apa yang kita kerjakan.
 
Pedasnya Rujak Cengor adalah sebuah kenikmatan yang harus kita syukuri. Selamat menikmati seporsi Rujak Cengor. (mlh/rujakcengor)

Kontak

Kontak Person

M Luqman Hakim
Sidosermo Dalam No 19, kode pos 60239
Wonocolo Surabaya
Jawa Timur Indonesia

Telp. 031 8399 6333,
Hp 0878 5290 3286



email :
amyloeq@gmail.comhakim_luq@yahoo.com


www.amyloeq.com







https://twitter.com/amyloeqhttps://www.facebook.com/pages/Rujak-Cengor/994320137262582?ref=hl